RIWAYAT PERJOANGAN PS / PARTISAN SILIWANGI

Riwayat ini dibuat agar supaya Anggota PS / Partisan Siliwangi berikut keluarganya dan Anggota penerusnya ada pegangan serta mengetahui betul, bahwa murid-murid dan ilmu yang diberikan oleh Ama Raden Uce Puradireja yang dirintis tahun 1922 ada gunanya bagi Pra Revolusi dan Perjoangan Bangsa Indonesia sampai merdeka dan seterusnya. Tiga bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia ,Sadikin Itto Hantjo dan Sumarhab Santo Hantjo berkenalan dengan Taris dari Penjambon Jakarta, disanalah dikenalkan kepada Ama Raden Uce Puradireja yang setelah mengetahui isi hati sebenarnya bagaimana Ama Raden Uce Puradireja,Pak Taris dan Sadikin serta Sumarhab, lalu menerima pelajaran ilmu yang dimiliki oleh Ama Raden Uce Puradireja, dan pada waktu akan berpisah lagi kepada kedua orang Haiho tersebut. Diberikan sehelai Bendera Sang Merah Putih menurut kata Ama Raden Uce Puradireja,bahwa Bendera tersebut akan berguna tidak lama lagi. Betul kata orang tua tersebut, bahwa Bendera Merah Putih itu dikibarkan oleh seluruh Haiho dari Kompi 3, Batalyon I. barisan penangkis bahaya udara, yang dalam bahasa Jepangnya yaitu Dai San Tju, Dai Itji-Tokkusyu, Bokutai-Jakarta.

Setelah ada perubahan jaman dimana para Peta dan Haiho dibubarkan oleh tetara Jepang maka pemuda Sadikin dan pemuda Darsono menetap dikampung Kepu dekat lapangan terbang Kemayoran Jakarta.

Dalam perjuangannya selain menyusun B.K.R Kecamatan Senen sambil melatih barisan pelopor supaya dapat digunakan didalam Revolusi Phisik.

Selagi bekerja dimarkas BKR Senen datanglah saudara Taris mebawa pesan dari Ama Raden Uce Puradireja bahwa Sadikin dan Darsono diserahi Pimpinan untuk Memimpin anggota-anggota dan murid-murid Ama Raden Uce Puradireja yang tersebar diseluruh Jawa dan Madura serta diberi nama PS. Pencak Silat atau Puradireja Segalaherang, tugas yang pertama dari anggoa PS dibawah pimpinan Sadikin, Taris dan Mashudi tiap hari dan malam mengawal Presiden Soekarno di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta sampai Bung Karno hijrah ke Jogja.

Setelah BKR dapat tugas dari pimpinan/atasan untuk menyusun TKR di Cikampek, Sadikin menjadi Komandan Bn. II dan Darsno Kompi Bn.II di Lemah Abang, Pada bulan Nofember  1945, Sadikin memanggil Ama Raden Uce Puradireja dari Banten tidak lama kemudian datanglah Ama Raden Uce Puradireja dengan diantar oleh Tol Mansur dan Pak Taris Husen ke Cabang Cikarang. Disanalah diperkenalkan oleh Mayor Sadikin pada semua Komandan Kompi, termasuk Kapten Darsono. Tidak lamakemudian Ama Raden Uce Puradireja diberikan tempat oleh Mayor Sadikin dikampung Kaceot Tunggal Jati Karawang disanalah para Ketua, Pelatih dan Anggota diberi pelajaran Ilmu guna menyerbu kesemua Front Jakarta Timur dan Cileungsi dibawah pimpinan Komandan Kompi yang bertugas di Front masing-masing selama satu bulan-satu bulan, semua anggota mendapat giliran. Begitulah diatur oleh Ama Raden Uce Puradireja masing-masing Pelatih dan anggota yang masuk Front atau menyerbu musuh, terlebih dahulu latihan rohani di Kaceot dan terus diserahkan kepada kompi-kompi dari Batalyon II. Pada bulan Desember 1945 dimana Mayor Sadikin tidak sempat mengurus anggota PS lalu Ama Raden Uce Puradireja menyerahkan soal perjoangan kepada Kapten Darsono sesudah 70 orang PSdari Kampung Cileutik Subang bertempur melawan Inggris dan Belanda di Keranji Bekasih, disitulah PS menyerang satu Peleton Tank Inggris tersebut, dari 70 orang anggota PS ada yang tertawan 12 orang dan 11 orang gugur yang kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawa Karawang pada bulan Febuari 1946. Kaptem Darsono menjadi Mayor dan pindah ke Cikampek memegang Bn.IV Res V Divisi Sunan Gunung Jati.

Karena kepindahan Mayor Darsono ke Cikampek markas PS Kaceot ikut pindah ke Dawuan setelah berada di Dawuan meletuslah perang saudara antara TKR dan Laskar Rakyat dan Pejoang-pejoang yang lain dimana PS ikut TKR jadi PS ikut Bn IV untuk merebut kembali Front Tabu dan Cileungsi

Pelucutan senjata kepada sisa-sisa yang mulai pecah akibat perang saudara tesebut berahir dala satu mingg, setelah resimen V dirobah menjadi menjadi Resimen VI yang pimpinannya dijabat oleh Mayor Sadikin mendapat perintah untuk pindah ke Tasikmalaya dan Batalyonnya dipimpin oleh Kapten Darsono, dan Ama Raden Uce Puradireja beserta PS nya turut pindah Mangunrejo di Singaparna. Karena menjelang saatnya Clesh ke I Resimen VI denan PS berpindah ke Darmaraja Sumedang.

Tidak lama kemudian meletuslah perang Kemerdekaan ke I dan Bn Res VI membentuk pertahanan di Sumedang dan sekitarnya,Batalyon XII dan PS bermarkas  di Situraja Sumedang,Front terepan ialah Sumedang mundur-mundur sampai kampong Sukatali.

Tiap-tiap penyerbuan ke Sumedang PS ikut serta waktu itu pasukan PS dapat tugas bagia membakar rumah-rumah musuh dan mengangkut TRI yang luka-luka, karena Front Sumedang belum jatuh ketangan Belanda maka datnglah bala bantuan tentara Belanda yang banyak untuk menghancurkan kita dari daratan dan udara.Resimen VI pecah belah dan Bn XII beserta PSnya menyelundup kearah Baratmendekati Jakarta. Di Kampung Wangun Sanggabuana dapat berhubungan dengan ketua Pelatih PS di Ciriu Bogor, selam dikampung yang seterusnya berpindah ke Ciriu dan bermarkas di Kampung Cbarengkok di Rumahnya Ketua Pelatih Pak O d i.

Setelah selesainya perang kKemerdekaan Ke I Bn XII harus hijrah ke Jogja, pada waktu itu PS mendapat tugas untuk menampung dan mengurus keluarga Tentara Bn.XII sampai oleh Tentara Belanda diangkut menyusul suami-suaminya ke Jogja, Pasukan PS ditugaskan untuk bergerilya sampai TNI kembali lagi ke Jawa Barat.

Pasa waktu itu Clesh Ke III pecah dimana Bn II Kiansantang  yang di Pimpin oleh Mayor Darsono daerah tempurnya disekitar Bogor, Jakarta, Karawang, Purwakarta, Cianjur dan Sukabumi kembali menetap di Gunung Sanggabuana.

Sejak itulah pasukan PS mendapat tuas lebih berat lagi sampai Perang Kemerdekaan kedua berakhir, karma perkembangan keamanan didalam Negri yang belum selesai, kadang-kadang pasukan PS diminta untuk turut membantu pembersihan.

Karena ada perintah dari Divisi Siliwangi bahwa pasukan PS harus dirobah cara perjuangannya  maka melalui BRN (Biro Rekontruksi Nasional ) 1500 kepala keluarga pasukan PS diberangkatka  ke Daerah Lampug Sumatra Selatan untuk Bertransemigrasi, Selama 18 tahun bertransemigrasi di Lampung , telah membuktikan Desa-desa yang dipimpin oleh Lurah-lurahnya dari rombongan PS.

Karena perkembangan Organisasi PS maka mulai tahun 1963 disusunlah sebuah Organisasi yang bersetatus Akte Notaris dam Perjuangannya dititik bertakan kepada Pembangunan.

Demikian sekelumitperjalanan PS sepanjang masa sampai akhir jaman.

Bandung tanggal 26 Agustus 1970

Organisasi PS ( Partisab Siliwangi )

PEMBIMBING

TTD

(R. D A R S O N O )

Mayor Inf

Catatan : dikutip dari cerita Pelaku Sejarah Bapak R. Darsno (Mayor INF)